Coffee Break Eropa Gosip Parenting Jalan Jalan

Tips Kuliah di Eropa Gratis Tanpa Beasiswa

Tips Kuliah di Eropa Gratis Tanpa Beasiswa – Kebanyakan anak Indonesia masih sering ngira kalau mereka yang bisa mencicipi kuliah ke luar negeri teh cuma golongan yang beruntung.

Baik beruntung karena otak cemerlang dengan mudah menggandeng beasiswa bergengsi kelas nasional hingga internasional. Golongan juara kelas.

Atau beruntung karena orangtua berduit sekaligus kasih kebebasan pergi dan cari pengalaman sampai menyebrangi samudera. Si borju yang ortunya tajir melintir.

Nomer dua jelas takdir. Orangtua gabisa dipesen, ibarat kata ini mah tulisan garis tangan, modalnya cuma berserah diri sama pilihan gusti Allah.

Nomer satu soal otak cemerlang masuk kategori nasib, bisa dibulak-balik tergantung ambisi dan kerja keras. Walau ada juga yang udah keras kerjanya nilai rapot masih pas-pasan. Namanya juga nasib.

Jadi mungkinkah ada jalan demi Kuliah di Eropa Gratis? Mulailah saya cari tips kuliah di Eropa gratis!

Akhirnya saya menawarkan pilihan ketiga sama diri sendiri ketika sepuluh tahun lalu kebelet kuliah di Eropa. Bukan otak encer, bukan orangtua tajir melintir, tapi nyali.

Karena nyali cuma bisa digerakin oleh kematangan emosi. -Tips Kuliah di Eropa Gratis-

Jadi otak dan kantong gak ngaruh buat si nyali yang ada di ubun-ubun sejak lahir.

Karena saya mah boro-boro berani berkompetisi dengan para lulusan sekolah kelas atas, kepikir aja ketika 2009 itu buat cari beasiswa ngga sama sekali.

Dan orangtua saya jelas jauh dari tajir, paling banter juga bapak saya cuma sampe melintirnya aja. Melintir kuping saya yang kadang bandelnya kabina-bina.

Tapi saya tahu, setidaknya saya punya nyali yang sejalan dengan akal sehat.

M. Tiyasaa

Jadi pikiran saya adalah, gimana bisa kuliah gratis ke eropa tanpa beasiswa?

Saya mulai mencari tahu sampai akhirnya menemukan informasi tentang Jeune Fille Au Pair. Info itu saya dapat dari teman yang bekerja di Campus France.

Apa itu Jeune Fille Au Pair? Jadi program Jeune Fille Au Pair adalah semacam program pertukaran. Pertukaran pelajar kah? Bukan!

Jeune Fille Au Pair adalah semacam program pertukaran pelayanan, dimana seorang anak yang memiliki kondisi finansial terbatas, usia berkisar mulai dari 16 sampai dengan 30 tahun,

berani masuk dan berkenalan dengan keluarga dan anak-anak yang akan menjadi tanggung jawabnya selama kurang lebih 20 jam setiap minggunya.

Apa maksudnya kondisi finansial terbatas? Harus melampirkan surat miskin gitu? Bukan atuh ihh!

Kondisi finansial terbatas artinya kita tidak punya rekening koran dengan jumlah minimum yang cukup yang bisa ditunjukkan saat mengajukan aplikasi visa ke negara yang dituju.

Au pair tidak memiliki kewajiban menyertakan bukti kondisi finansial selama tiga bulan kebelakang sebagaimana yang selalu harus kita lakukan setiap akan mengajukan visa, terutama ke negara-negara Eropa atau USA atau Canada atau Australia.

Jadi masalah ini terselesaikan? Belum!

Ada yang harus dipenuhi ketika akan mengajukan visa dalam program Au pair ;

Pertama, wajib melampirkan kontrak yang ditandatangani oleh keluarga yang akan menjadi penampung sekaligus disebut sebagai istilah kasarnya majikan.

Atau istilah baiknya host family, begini para au pair di negara maju menyebut keluarga tempat mereka bekerja.

Mereka bukan majikan, karena walau kita ikut membantu pekerjaan rumah tangga, tingkat kita masih setara.

Bahkan kita menjadi bagian dari keluarga dimana kita akan ikut makan di meja yang sama atau menonton tivi dan duduk di sofa yang sama).

Selain ditandatangi keluarga ditandatangani siapa lagi?

Kontrak juga harus ditandatangi juga di beri cap oleh otoritas kota setempat, seperti kantor walikota misalnya.

Artinya keluarga yang akan menampung kita lah yang harus menunjukkan kelayakannya dalam menampung anak muda yang kelak akan bergabung dengan keluarga mereka. Kenapa?

Karena ini bukan program bunuh diri, ini adalah program yang harus  dipertanggung jawabkan oleh negara tujuan.

Nah setelah mendapat kontrak persetujuan yang ditandangani dan di cap, disana akan tercantum bahwa seorang au pair harus menerima pelajaran bahasa setempat secara ofisial baik dalam program di sekolah maupun privat selama 20 jam per minggu.

Surat ini sebenernya bukan urusan kita, tapi jadi tanggung jawab host family buat mengurus. Tugas kita cuma cek ricek, meyakinkan kalau semua prosedur ga ada yang ketinggalan.

Kenapa harus cek segala? Karena kalau sampai ada yang ketinggalan satu tahap aja, prosesnya bisa mundur sampai berbulan-bulan.

Oiya kok jumlah jamnya sama dengan tanggung jawab kerja kepada host family kita? 20 jam belajar dan 20 jam bekerja? Betul!

20 jam bekerja itu ibarat kata hanya part time kan? Sedangkan 20 jam sekolah sudah termasuk full time atuh? Atau dalam istilah kelas bahasa adalah program intensif!

Artinya au pair dalam strata sosial adalah anak muda yang sekolah sambil kerja part time. Hal biasa buat anak-anak di negara maju.

Ketika kita menjadi au pair, bukan hanya tugas yang harus diperhatikan dan dituntut atuh.

Tapi kemampuan kita berkomunikasi dalam bahasa asing jadi prioritas. Juga kemampuan dalam menerima perbedaan.

Disinilah nilai toleransi akan sangat diperhitungkan. Kenapa? Karena percaya atau tidak, ini yang menjadi masalah besar untuk banyak orang yang pergi melancong dan tinggal di negara asing, gegar budaya.

Gegar budaya, referensi dasar berdasar pengalaman masih melekat begitu tajam di kepala.

Susah move on karena menganggap semua seharusnya sama seperti apa yang kita mau dan kita pikirkan atau kita ekspektasikan.

Padahal inti dari program ini adalah mengobservasi, memahami dan menerima sebagai nilai yang berbeda saja.

Jadi artinya kalau ada kekerasan atau penyelewengan, aupair harus anggap ini cuma gegar budaya?

Ngga atuh ih!! Peraturan itu budaya, tapi hitam diatas putih! Perhatikan hak dan tanggung jawab kita, kalau ada yang gak sesuai, komunikasikan.

Beri kesempatan pada host family untuk melihat bahwa kita paham betul dengan apa yang telah ditanda tangani dan sebaiknya saling menghormati.

Karena bahasa lain dari au pair sendiri adalah babu berpendidikan, bukan bodoh dan mudah dijatuhkan. Berprasangka baiklah, tapi tetap memegang jalur pada aturan.

Kalau host family betul-betul seenak jidat, laporkan ke kantor walikota setempat dengan menyertakan kontrak.

Hak kita mendapat perlakuan keadilan sama sebagai manusia dimata hukum negara manapun kok.

Maka dari itu juga dalam proses pencarian host family, yakinkan hati terlebih dahulu sebelum melakukan hand shake.

Buat seluruh informasi menjadi jelas. Jika prinsip kamu adalah tinggal di kota besar, jangan mencari keluarga yang tinggal di desa.

Karena desa berarti keterbatasan dan kamu bakal frustasi dalam sekejap. Begitu juga sebaliknya.

Jika prinsip kamu adalah tinggal dengan keluarga yang utuh, jangan mencari single parent, karena ada konsekuensi dari keputusan yang asal-asalan.

Juga terkait jumlah anak yang harus kita jaga nanti. Penting yah? Banget atuh!

Karena satu anak yang dijaga beda dengan empat. Pas harus jemput empat anak ke sekolah dan harus bawa empat yang mungkin susah diatur, tukang nangis, tukang lari ke jalan raya.

Gimana? Kebayang? Banding sama sebiji!

Dari sekolah bahasa kita akan mulai mendapat teman dan sesekali pasti ingin pergi hangout dengan mereka.

Komunikasikan jam-jam kosong sebagai aupair.

Apakah weekend jadi me time atau malah hari ketika keluarga paling membutuhkan kamu? Komunikasikan yah..

Ngga ada istilah weekend untuk au pair sepanjang kesepakatan mengatakan sebaliknya. Tapi bukan berarti au pair ngga punya hak me time.

Ingat atuh, kembali pada aturan bahwa jam kerja au pair hanya berkisar di 20 jam per minggu. Gimana aturannya ya sesuai kesepakatan.

Sekolah adalah menjadi tanggungan host family untuk membayar? Ya iyes lah! Terus ada uang saku yang harus dibayarkan kepada au pair? Jelas!

Cek dengan host family dan juga berdasar aturan negara yang ditinggali. Standar di Perancis misalnya sekitar 75-100 euro per minggu untuk uang saku.

Lalu bagaimana menemukan host family yang daritadi saya bahas-bahas ini? Ada beberapa referensi sebenarnya, tapi saya pribadi menggunakan aupairworld.com

Semua adalah praktikal di lapangan yang terjadi sama saya yah, tentunya au pair lain bisa aja punya cerita dan pengalaman lain.

Untuk yang suka posting ini, silahkan di komen aja yah dibagian informasinya mana yang ingin diketahui.

Kalau ada yang mau tau lebih banyak tentang kuliah dan kerja di Eropa (Perancis lebih tepatnya), sahabat saya ini teh banyak juga cerita, coba dicek disini yah.

Hatur nuhun sadayana. Semoga Tips Kuliah di Eropa Gratis ini bermanfaat buat mamang dan teteh.

Keki Atau Suka? Tinggalkan Kesan Disini