Coffee Break Gosip Perempuan

Gegara Sosial Media

Semua gara-gara kedatangan kalian, wahai sosial media; Facebook dan Instagram

Tidak Ada Lagi Sahabat Sejati dalam hidup kami, yang ada hanya Followers dan perbincangan melalui komentar dalam ruang publik

Kembalikan Hidup Kami, wahai sosial media

Sungguh, dulu kami punya waktu untuk saling menyapa rindu dengan sahabat. Dulu kami akan meluangkan waktu untuk sekedar memberi kabar dan bertanya jika segalanya baik-baik saja.

Sekarang, bahkan saat jenazah orang tersayang kami membentang didepan mata, kamu yang paling pertama aku beri kabar, wahai sosial media.

Kami tetap mengucap Innalillahi, sungguh, tapi ucapan itu diselayangkan dengan sebuah puisi doa untuk di pampang di berandamu.

Kami tetap mengucap doa, sungguh, hanya saja tidak selalu kami panjatkan langsung kepada Tuhan kami, kami mengucapnya di berandamu, berharap Tuhan juga memiliki akses ke berandamu dan membaca segala doa-doa kami, tentu saja.

Terkadang bahkan dengan tega tangan ini menjepret wajah jenazah orangtua kami seolah semua ini adalah sebuah sesi foto untuk membuat paspor.

Seolah perjalanan menuju liang lahat juga membutuhkan visa yang di apply melalui beranda-berandamu, wahai Facebook dan Instagram. Sungguh aku iri denganmu, sungguh kau dihormati dan dipuja sebegitu tinggi.

Sekarang, bahkan saat anak kami sakit. Kami akan berlari mencari termometer, mengukur seberapa panas suhu badan anak kami, dan dengan sigap menjepret hasilnya.

Sungguh kami harus segera memberi tahu kalian perihal kabar ini, wahai Instagram dan Facebook. Sungguh kami masih punya waktu untuk itu.

Menggendong anak kami dengan lengan kanan ketika lengan kiri kami aktif memberi kabar padamu;

Bercerita bagaimana sedihnya melihat anak-anak kami terdampar sakit walau terkadang lupa diri ini membelai kepala mereka dengan seluruh perhatian yang kami miliki.

Jelas tidak bisa, kami harus membagi sebagian perhatian kami untukmu, wahai Instagram dan Facebook.

Sekarang, saat suami kami pulang kerja dengan membawa hadiah ulangtahun pernikahan, kami terkadang lupa mengecup pipinya dan mengucap syukur, karena tangan ini sudah terlalu sigap menjepret bingkisan manis di depanmu.

Sungguh kami sebenarnya sempat berterima kasih, tapi ucapan itu hanya tertulis dalam beranda-berandamu yang begitu digandrungi untuk berbagi suka cita seperti ini.

Tidak sempat terucap, sungguh kami tidak punya lagi waktu berbasa-basi mengucap terima kasih secara langsung lagi.

Jelas kami lupa untuk saling berbincang
Jelas kami enggan untuk saling bertandang

Ah sudahlah, mungkin memang sudah waktunya nilai-nilai kemanusiaan kami memudar, bukankah kini menjadi waktunya untuk kalian bersinar, wahai teknologi, Facebook dan Instagram.

Apa saja bukti pengaruh media sosial kehidupan Anda

Silahkan cek disini: Apa saja bukti pengaruh media sosial kehidupan Anda

Andai Bob Sadino masih bersama kita untuk melayangkan fakta-fakta kehidupan masa kini yang membingungkan.

Keki Atau Suka? Tinggalkan Kesan Disini