Coffee Break Gosip Perempuan Koleksi Buku Terbaik Koleksi Pribadi

Obsesi Kulit Putih di Indonesia

Obsesi kulit putih di Indonesia dan ancamannya terhadap Perempuan tanah air. Kurang lebih sepuluh tahun saya merantau, ada dua pattern yang secara konsisten menyambut saya.

Kalau pulang ketika musim dingin di negeri rantau, ketika saya rindu matahari karena ketemunya ibarat mimpi ketemu Brad Pitt,

otomatis sambutan yang neneng dapet kaya gini “neng, cakepan lo sekarang, putihan”,

kalau saya pulang ketika musim panas di negeri rantau, ketika matahari ibarat baju diskon di pasar baru,

begini kurang lebih “neng item banget sih lo, ampe dekil, tinggal di afrika atau di eropa sih?”.

Saya mah dari kecil udah disebut dekil, jadi ya bukan perkara besar lagi sekarang. Mana rambut saya kriting kribo kaya singa lagi ngambek sama pak RT.

Saya mah udah biasa jadi paket lengkap buat diteror. Udah coba krem pemutih sama rambut dibonding juga, pujian buat saya ya sifatnya temporer.

Kaya hape Iphone yg harus diinstal sebulan sekali kalau ngga diadat sama seluruh semesta. Begitulah.

Obsesi kulit putih ibarat sebuah ancaman bagi perempuan-perempuan di Indonesia.

Ancaman yang terselubung dan merusak makna inner beauty itu sendiri.

Tapi bukan masalah, saya sendiri yang kebawa jaman, saya sendiri yang kejar-kejaran demi sebuah pujian. Ada yang merasa sama?

Kalau jaman dulu orang kulit hitam yang menang dalam perang kekuasaan, apakah warna hitam bakal tetap menjadi referensi keburukan?

Dan warna putih bakal tetap memimpin dalam persoalan kebaikan?

Kalau dulu di Amerika Serikat orang kulit putih jadi budak dan kulit hitam yang jadi majikan, apa referensi kita di tanah air juga bakal berubah?

Masalahnya teh kita ngga tau! Kenapa? Karena itu bukan fakta sejarah yang kita hadapin sekarang.

Biar kata Obama sempat memimpin negara adi kuasa, biar kata Will Smith membuktikan orang hitam juga bisa ganteng minta ampun,

biar kata Nelson Mandela dihormati hampir seluruh umat, faktanya kalau hidup di Indonesia pokonya yang putih pasti cakep, yang item, kalau kata suami saya “role the dice”,

ya liat keberuntungan aja, siapa tau bisa dapet gelar si hitam manis, atau siapa tau bisa dibilang minimal pinter atau ya kaya, siapa tau loh yaa.

Jadi putih gak perlu embel-embel buat dipuja, sesimpel itu buat hidup di tengah masyarakat yang menganut paham warna sebagai referensi absolut.

Neng nulis ini karena kesel ya neng? Separo sih iya, separo lagi karena saya kebawa perasaan sama nasib orang yang terkena dampak ketidakadilan hanya perkara warna.

Belum lagi presiden negara adikuasa saat ini lagi giat memprovokasi perkara warna sebagai referensi tindak kriminal.

Apa dia rekues sama Tuhan warna kulit pas lahir?

Anggep aja mungkin bule gak bisa menerima kenyataan Tuhan sebagai pemegang kuasa penuh buat kasih warna pelindung tulang dan daging pada diri manusia, kita?

Atuhlah, kita kan berpegang teguh pada keyakinan Tuhan Yang Maha Esa, ada di Pancasila pasal satu yang jaman SD harus kita apalin kalau ga bisa disetrap di ujung kelas.

Obsesi kulit putih di Indonesia
M. Tiyasaa

Saya mah cuma mau kasih satu peluk hangat sama yang mau mulai sama-sama mengganti paham ‘cakep deh, putihan’

Dengan hal-hal lain yang lebih layak diberikan kepada manusia yang pasalnya tidak punya pilihan soal ini, hanya menerima takdir Tuhan, Kecuali kalau operasi plastik memang jadi bisnis teteh dan mamang sekalian 🙂

Sampai kapan kita mau jadi manusia dengan pandangan perspektif yang tidak hanya menyakiti manusia lain, tapi juga menghina Tuhan sebagai desainer official-nya?

Saraswati bercerita fakta sejarah terkait asal-usul kulit putih, pesona dan ancamannya ini di Indonesia dalam bukunya.

Novel Soé Isabel, oleh M. Tiyasaa

Keki Atau Suka? Tinggalkan Kesan Disini