Coffee Break Gosip Perempuan

Mulia Karena Garis?

“Maaf ya Gus, kamu gak marah kan sama aku?”

Aku hanya menunduk, tak mampu menahan air mata lebih lama lagi. “Aku yakin kok, kamu pasti bakal dapet yang lebih baik dari aku satu hari nanti,” Lilis terus melanjutkan tanpa menunggu balasanku.

“Kamu yakin mau nikah sama dia?”
“Kita udah coba sama-sama selama 5 tahun ini tapi mamah sama abah aku tetep keukeuh, Gus. Mereka cuma mau aku nikah sama pria dan garis keturunan yang sama. Menurut mereka, keluarga aku berasal dari garis keturunan yang paling mulia diantara semua garis keturunan yang ada. Aku gamau bikin mereka kecewa.”

“Gak ada yang mulia dimata Allah hanya karena garis keturunan, Lis. Mulia kita cuma dari ibadah yang dijalanin.” Mimpi dan harapan untuk menikahi gadis pertama dalam hidup yang aku cinta sirna sudah. Lilis memilih menikahi pria pilihan orangtuanya, pria yang garis keturunannya katanya lebih mulia dariku.

“Sepertinya kamu gak sedekitpun keliatan sedih yah, Lis! Syukurlah, semoga ini baik untuk kamu,” aku pun memutuskan pergi. Bukan lelaki jika harus terus menangis cengeng tidak karuan, bukan?

Orangtua Lilis memang tidak pernah suka padaku. Katanya aku bukan dari garis keturunan yang istimewa, hanya seorang sales obat dengan penghasilan tak lebih dari 3juta per bulan, dan hanya anak seorang kepala sekolah di SD kampung. Ah, kata mereka aku juga tidak ganteng.

Entah bagaimana pernikahan itu berlangsung atau bagaimana mereka menjalani rumah tangga. Yang jelas, 6 bulan kemudian Lilis mengirimiku sebuah pesan singkat.

Aku cerai, si Yudi ternyata lelaki penghianat gak tau diri. Dia gak pernah kasih aku nafkah, pinjam uang dari Bank tempat aku kerja dengan jaminan namaku, dan sudah punya anak diluar nikah dengan mantan pacarnya.

Deuk. Hatiku bergetar. Aku tidak pernah membayangkan dia akan menghubungiku lagi.

Tanpa menjawab pesan singkat yang dikirimkan Lilis, aku membuang nomer lamaku dan membeli kartu baru.

Tekadku sudah bulat. Hari ini aku beserta seluruh keluarga besar hendak melamar Rita, sahabat dekat Lilis yang sempat menjadi selingkuhanku saat aku masih pacaran dulu dengan Lilis.

Atuhlah Gus, saruana ai maneh ningan!

Keki Atau Suka? Tinggalkan Kesan Disini