Coffee Break Koleksi Pribadi

Dosa Jurnalistik Menurut Dahlan Iskan

Begini kurang lebih tulisan Dahlan Iskan terkait dosa jurnalistik dan sudut pandang nilai pilihan dalam blog pribadi Dahlan Iskan sendiri berawal:

Pilih yang Penting atau Menarik? Jurnalistik punya dosa keturunannya sendiri: mengalahkan yang penting, memenangkan yang menarik.

Dahlan Iskan (selengkapnya disini)

Saya melihat pandangan yang lebih luas dari tulisan Dahlan Iskan, bahwasanya menarik itu dicipatakan oleh konsep perspektif itu sendiri,

tidak (begitu) peduli dari mana akarnya, bahwanya menarik itu adalah sisi (krusial) lain dari dunia literasi dan jurnalistik. Seperti halnya dunia bisnis,

jurnalistik dan literasi tidak bisa memaksa dunia untuk membeli karyanya (hanya) karena dianggap penting oleh sebagian pihak, bukan?

Apa iya karena sebagian menganggap bahwa vitamin C itu penting untuk tubuh berarti semua umat manusia wajib membelinya? Pertanyaan yang cukup aneh bukan?

Sebagian memiliki masalah ginjal, tidak mampu mencerna Vitamin C begitu saja dengan mudah, sebagian lagi sangat membutuhkan karena terus merasa lelah!

Apa karena konsep memindahkan manusia ke Planet Mars itu penting untuk menyelamatkan generasi baru manusia masa depan dari dampak kehancuran bumi ini,

Maka dari itu seluruh umat manusia harus percaya tentang fakta-fakta (yang dijajarkan tentang) eksistensi konsep kehidupan di Mars?

Saya rasa tidak, sebagian memiliki fakta religi dan sebagian lagi menjabarkan konsep sains dalam perspektif yang berlawanan!

Apakah opini, fakta penemuan dan sudut pandang (pantas) dikategorikan sebagai kebohongan dan dosa jurnalistik?

Kata menarik ini sendiri lebih baik diangkat dari sikap terbuka penulis-penulis masa kini, untuk membuat literasi dan dunia kepenulisan jadi lebih digandrungi.

Apakah ini sebuah dosa?

Kreatifitas adalah bagian dari daya tarik itu sendiri.

Tapi bahwasanya penulis mengambil perspektif yang dianggap (sebagian pihak) tidak benar, bahwasanya disanalah perdebatan (kritis dan berdasar) perlu dibentuk (lagi dan lagi dan lagi)

Selamat menulis, menikmati dan mengkritisi dengan opini-opini berdasar, karena inilah kado Gusti Allah untuk binatang yang dinamakan manusia.

Namun sebuah nama dan ketenaran menjadi referensi yang menguatkan fakta-fakta opini, dan pada akhirnya apakah (seorang) saya layak mengkritisi seorang Dahlan Iskan?

Jelas rumit tugas seorang jurnalis! Meramu berita sehingga mampu mengambil hati pemirsa yang kerap lapar namun sulit dipuaskan.

Pembaca yang mencari rekomendasi bacaan menarik, silahkan dilihat disini.

Saya juga memberikan sedikit informasi menarik terkait wisata keliling dunia serta kisi-kisi novel saya yang segera diterbitkan oleh penerbit Yrama Widya.

2 thoughts on “Dosa Jurnalistik Menurut Dahlan Iskan”

Keki Atau Suka? Tinggalkan Kesan Disini