Koleksi Buku Terbaik Koleksi Pribadi

Akibat Perceraian

Ketika anak tumbuh jadi seorang yang rusak, sering kali embel-embel yang tumbuh di masyarakat tidak jauh dari “Pantes aja korban perceraian itu anak, jadi gak tau arah hidup yang bener kan tuh”. Dan ketika anak rusak padahal dikarunia orangtua yang utuh dan penyayang, yang akan berkembang di tengah gosip tidak jauh dari “itu sih orangtua terlalu sayang tuh sama anak jadi buta kaya gitu”.

Artinya kalau kita membiarkan masyarakat yang mengambil alih penilaian tentang seperti apa kita tumbuh, lelah hati lah pasti telinga neneng. Ya, saya sendiri adalah anak yang menjadi bagian dari isu perceraian itu sendiri. Itu kenapa percakapan Buya Hamka (Malik) dengan Haji Rosul (Sang Ayah) tentang akibat perceraian itu sendiri langsung menusuk saya sampai ke tulang rusuk. Jleb..

“Hinaan dan cacian terus berdatangan… Jika aku datang ke keluarga Ibu.. mereka menghinaku dengan mengatakan anak nakal yang ditelantarkan… Jika aku datang menemui kerabat Haji Rosul, ada diantara mereka yang mengatakan jika Malik adalah korban kebodohan kedua orangtuanya yang tidak bisa membina rumah tangga. Hatiku benar-benar perih mendapat perlakuan seperti itu.” (hal. 67-68)

Hamka Sebuah Novel Biografi, oleh Haidar Musyafa

“Jika hidup ini hanya diisi dengan berburuk sangka atas perbuatan yg akan dilakukan orang kpd kita, tentu hal itu akan membuat kita gamang melangkah, Umi. Bukankah Allah akan memberika pahala dan dosa sesuai dg apa yg kita niatkan?” Jawaban Buya Hamka terhadap kehawatiran Siti Raham (sang istri). Dengan waktu, akhirnya Buya Hamka belajar menghargai diri sendiri dengan terus berakar pada aturan kepercayaannya.

Buku ini saya temukan ketika sedang mencari referensi biografi pahlawan-pahlawan tanah air. Setelah membaca Tan Sebuah Novel, saya merasa ketagihan dan menjadikan pengetahuan ini sebagai pekerjaan rumah yang harus saya gali. Bagaimana tidak setiap suami saya yang kepo soal sejarah tanya-tanya tentang Indonesia, saya cuma senyum-senyum geli sambil mengaku terang-terangan, “gak paham juga sih” selalu begitu jawaban saya.Sama halnya dengan Tan, buku Hamka ini juga disajikan dengan gaya bahasa literasi modern, ibarat sebuah novel yang membuat pembaca terus penasaran dengan nasib-nasib karakter di dalamnya.

Haidar menceritakan kisah hidup Hamka sejak ia masih kecil dan masih menjadi anak pembangkang yang lebih senang main, kegalauan akibat bersitegang dengan orangtuanya, perantauan menuju alam bebas yang sempat begitu diidamkan, perceraian orangtua, hingga nasib percintaannya, dan upayanya untuk kembali diterima dalam budaya yang membesarkannya.

Walau kadang terlampau generik dalam penggunaan deskripsi, Haidar tetap mampu membawa pembaca dalam plot cerita yang menarik dan mudah dibayangkan.

Sangat saya rekomendasikan!

Keki Atau Suka? Tinggalkan Kesan Disini